Bagaimana Wewangian Digunakan Dalam Marketing (Scent Marketing)?

“We are a well-educated-type of animal. Press the button(s), the basic instinct will take place”

Pada dasarnya manusia adalah binatang. Seperti halnya binatang, beberapa hal yang membuat kita melakukan sesuatu secara spontan jika pemicunya dilakukan. Misalnya, kita cenderung menjadi cepat marah jika lapar, tertarik pada bebauan, atau tertarik pada warna-warna.

Pheromone adalah sejenis zat kimia berbau yang biasa digunakan serangga sejenis untuk memberikan pesan atau penanda terhadap sesuatu sehingga serangga lain dapat merespon. Pheromone ada banyak jenisnya, ada yang digunakan untuk penanda berkumpul untuk menyerang atau bertahan dari mangsa, signal adanya serangan dari mangsa, penanda perbatasan, penanda jalan, sampai pheromone yang digunakan untuk menarik lawan jenis.

Marketing Dengan Wewangian

Pemasaran Dengan Wewangian (Scent Marketing)

Pena Beraroma Buah-buahan

Pena Beraroma Buah-buahan

Manusia bisa membedakan sekurang-kurangnya 10.000 jenis bau dan 75% perasaan kita disebabkan karena apa yang kita cium. Berbeda dengan sinyal dan suara yang diproses otak secara logis, aroma di proses secara lebih primitif (otak yang paling dalam) sehingga kita tidak mampu menghindar ataupun memprosesnya secara logis. Begitu powerful-nya cara ini sehingga strategi pemasaran menggunakan cara ini menuai kritik. Strategi ini dianggap manipulatif karena menyebabkan banyak mengambil keputusan dibawah sadar. 

Strategi marketing dengan menggunakan wewangian secara terang-terangan diakui digunakan untuk meningkatkan penjualan dan pengalaman terhadap sebuah brand seperti beberapa merek terkenal seperti Nike, Starbucks, Cineplex, Singapore Airlines, Lowe’s dan banyak lagi.

BrandAroma
NikeCampuran bunga
StarbucksKopi yang baru diseduh "Starbucks Experience"
CineplexPopcorn
Singapore AirlinesMawar, lavender dan jeruk "Stefan Florida Waters"
Turkish AirlinesLemongrass "TK 1933"

Tujuan penggunaan aroma antara lain, untuk:

  • Memperkuat dan meningkatkan pengalaman produk (contoh: Starbucks)
  • Relaksasi dan mengurangi kegelisahan (contoh: Nike, Singapore Airlines)
  • Menarik pembeli untuk mencoba (contoh: Hokaido Tart)
  • dan membedakan sebuah brand dari kompetitor

Pada tahun 2008 Starbucks menghapus sandwich dari menu mereka karena aroma masakan bukan aroma kopi sehingga menggangu image toko sebagai penyedia kopi dan mengurangi pengalaman konsumen akan kopi.

Aroma kue keju panggang yang kuat di sebuah mall Jakarta

Aroma kue keju panggang yang kuat di sebuah mall Jakarta

Bagaimana memulainya?

Seperti halnya strategi marketing lainnya (online ataupun offline), kita terlebih dahulu harus mengetahui demographic dari produk bisnis. Setiap orang memiliki interpretasi terhadap satu aroma yang berbeda-beda, bisa reaksi positif atau negatif. Misalnya aroma durian akan direspon positif oleh sebagian besar orang Asia tetapi respon yang berbeda terjadi pada orang Western. Contoh lain, aroma “feminim” vanila disebuah toko pakaian akan berdampak positif pada pembeli wanita tetapi sebaliknya pada pembeli laki-laki.

Wewangian harus bisa menambah pengalaman positif pembeli yang sedang berada atau menggunakan produk, dan sebisa mungkin mewakili produk yang dijual. Wewangian hanya digunakan sebagai stimulan lembut bukan untuk mengalihkan perhatian dengan aromanya yang kuat karena wewangian bersifat subjektif.

Facebooktwitterreddit

Yudhi Lazuardi

Digital Marketer yang memiliki ketertarikan pada psikologi (psycho-science) dan eCommerce. Artikelnya terbit setiap hari Minggu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *